shadow

Inovasi Metode Pembelajaran GO Meningkatkan Kinerja Otak

Posted by Syahrul Ghani , category Pengetahuan Umum, read 1077

Era Masyarakat Ekonomi ASEAN cukup berat dihadapi oleh Indonesia. Persaingan di negara negara ASEAN berlangsung ketat. Di bidang ekonomi, Tiongkok dan India maju dengan pesat. Sementara Indonesia, di ASEAN, di berbagai bidang di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam.
"Kita memang tertinggal dalam persaingan," kata Direktur Utama Ganesha Operation Bob Foster.
Namun, Indonesia dapat mengimbanginya. Pasalnya, MEA memberikan kesempatan terbuka di berbagai bidang. Di tambah lagi, tujuan MEA sendiri cukup positif, yakni mengembangkan negara-negara di ASEAN.
Indonesia, kata Bob, mampu melalui tantangan ketertinggalan itu. Kuncinya dengan meningkatkan kemampuan human development. Indonesia dengan negara ASEAN lainnya memiliki indeks rata rata sumber daya manusia di tingkat medium. Dengan potensi penduduk sebanyak 255 juta menempati peringkat ke-4 di dunia, Indonesia mampu mengejar ketinggalan.
Kunci lainnya berada pada pendidikan dan inovasi. Bob mengatakan di bimbingan belajar yang ia bangun, Ganesha Operation, telah diciptakan sejumlah model inovasi metode pembelajaran seperti revolusi belajar dan teknologi pembelajaran dan metode tersebut sesuai dengan cara kerja otak manusia.
Bob menyebutkan revolusi belajar perlu dilakukan karena keinginan belajar siswa saat ini sangat rendah. Di GO, diberikan berbagai pendekatan agar siswa tidak bosan seperti neuroteaching. Dengan metode itu, suasana di kelas akan menyenangkan.
Selain itu, pengajar dituntut lebih komunikatif dalam memberikan bahan ajar. Metode untuk menyelesaikan soal dengan cepat dan mudah dimengertipun harus dikuasai guru.
"Kami menyebut ini metode The King, dimana siswa diajarkan menyelesaikan soal dengan metode yang mudah dipahami dengan waktu pengerjaan soal yang singkat," ucap Bob.
Guru, lanjut Bob, harus mengenal betul tipe-tipe siswa di kelas. Ada siswa visual yang mengandalkan penglihatannya. Ada juga siswa auditory, yang lebih peka pendengarannya. Dan ada pula siswa yang kinestetik, yang menangkap pelajaran sambil bergerak .
Metode itu harus juga dibarengi dengan teknologi yang memadai. Di GO, telah diterapkan GO-CBT, dimana pembelajaran berbasiskan komputer. Model ini memungkinkan siswa menguji kemampuannya melalui Try Out On-Line kapan saja. Teknologi terkini yang dikembangkan, kata Bob, adalah GO Formula. Teknologi ini memungkinkan siswa dapat belajar dengan memanfaatkan telpon pintar yang dimiliki.
Dengan sistem yang dimiliki GO saat ini, Bob mengharapkan pihaknya mampu berkontribusi meningkatkan kualitas manusia. Di saat yang bersamaan akan juga meningkatkan daya saing Indonesia sehingga tidak lagi tertinggal. (*)

29Feb2016