shadow

Bob Foster : Peningkatan Profesionalisme Guru dengan Rumus 5 C

Posted by Syahrul Ghani , category Info Pendidikan, read 1135

Bandung, 28 November 2015.

Peningkatan profesionalisme guru dapat mengubah Indonesia di mata dunia. Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk terbesar nomor 4 di dunia dan menjadi salah satu dari 16 negara terbesar di dunia yang dilihat dari sudut ekonomi belum disegani oleh penduduk dunia. Hal ini diakibatkan sumber daya manusianya dalam peringkat Human Development Index masih berada jauh di bawah negara Malaysia, Brunei Darusalam dan Singapura.

Berdasarkan data, Indonesia, 45 juta anggotanya adalah orang yang memang mengkonsumsi 53% dari penduduk kota, menghasilkan 74% dari GDP untuk bangsa kita. 55 juta pekerja yang berskill yang terampil ada di dalam dunia ekonomi, dan 0,5 dollar triliyun terdapat potensi market. Jika melihat jauh ke depan, apa yang akan terjadi pada saat 2030 ternyata bahwa populasi pada nantinya 71% yang akan menghasilkan 86% GDP untuk bangsa kita, artinya adalah tetap pendidikan harus dibenahi untuk meningkatkan hal tersebut. Fakta lain yang membuat bangsa Indonesia belum diakui atau belum disegani adalah dari bidang pendidikan, karena masih banyak kondisi siswa yang low achievers.

Masih rendah capaiannya, bukan anak bangsa kita bodoh, tapi sekarang saatnya bagaimana kita mengelolanya dengan baik, waktu kita lihat hari guru nasional Bapak Menteri mengatakan bahwa kunci utama keberhasilan pendidikan bangsa ini ada ditangan guru, bukan ditangan kurikulum, bukan ditangan fasilitas, bukan ditangan yang lain tapi ada ditangan guru, ujar Bob Foster pada acara Sarasehan Forum MGMP Provinsi Jawa Barat bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, di Aula Dikmenti, Gedung Dikmenti Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Jl. Dr. Radjiman No. 6 Bandung.

Acara yang bertemakan Peningkatan Profesionalisme Guru diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat dalam rangka meningkatkan kompetensi guru di Jawa Barat. Acara ini menghadirkan Direktur Utama GO sekaligus Rektor Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia, Dr. Ir. Bob Foster, MM sebagai narasumber, dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. Asep Lukman, M.Pd. Dalam acara yang diikuti oleh puluhan guru tingkat SMA untuk mata pelajaran Fisika, Kimia , Biologi, PPKn, dan Ekonomi, Bob Foster menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan bangsa ini ada ditangan guru, bukan ditangan kurikulum, bukan ditangan fasilitas, bukan ditangan yang lain tapi ada ditangan guru. Jika melihat secara menyeluruh fakta yang ada (masalah pendidikan nasional) diantaranya kekerasan fisik, pelecahan seksual itu banyak terjadi, dan banyak masalah lain yang menjadi tantangan adalah profesionalisme.

Pendidik adalah professional, tugas utamanya adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, mengevaluasi peserta didik, sesuai dengan UU No. 14 tahun 2005. Berarti tidak hanya pelajaran yang dimengerti oleh siswa, tetapi lebih dari itu tujuan yang menerima pendidikan hidupnya harus berubah menjadi lebih baik mempunyai integritas dan punya percaya diri untuk bangsa dan negara kita. Tegas Bob Foster sebagai salah satu pemateri di Sarasehan MGM bersama Dinas Pendidikan.

Professional itu adalah seorang yang memiliki kompetensi, keahlian, keterampilan, kerja cekatan, strategi (cerdas), pengalaman, totalitas dan integritas yang mengagumkan. Namun hal lain yang mencirikan seorang guru profesional adalah dapat menjadikan siswanya mempunyai goals (tujuan) untuk masa depan. Seperti yang diungkapkan Bob Foster yang juga seorang pengajar dan penulis buku-buku fisika tingkat SMA, untuk peningkatan profesionalitas, tantangan seorang guru adalah senantiasa harus melakukan banyak hal berulang-ulang, berlatih, dan terus belajar.

Lebih lanjut, Bob Foster mengatakan bahwa meningkatkan profesionalisme guru dimulai dari kompetensi guru. Kompetensi ini dapat dilakukan dengan rumus 5C: capability, character, chemistry, compliment, contribution. 5C ini akan mudah diidentifikasi oleh orang lain, terutama oleh siswa. Maka dari itu selain menerapkan rumus 5C, guru juga harus mengetahui gaya belajar siswa, seperti visual, audithory, dan khinesic. Baik penerapan rumus 5C dan pengetahuan guru mengenai belajar siswa, maka akan menciptakan bank emosi di dalam diri siswa. Bank emosi yang dijelaskan Bob Foster merupakan apa yang kita lakukan akan ditabung di dalam diri seseorang. Bentuk dari bank emosi yakni, memberikan pujian kepada siswa, biasakan minta tolong kepada siswa, komitmen mengambil keputusan untuk tidak pernah mundur sebagai seorang guru. Seorang guru professional memiliki kontribusi dalam hal studi atau mata pelajaran-mata pelajaran yang kita ajarkan ada terobosan baru, terobosan yang kita buat, kontribusi yang dapat memotivasi siswa kita, kontribusi kepada sekolah dengan metode-metode pembelajaran, ujarnya.

Pernyataan tersebut juga disepakati oleh Ka. Disdik Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Asep Lukman, M.Pd bahwa kompentesi guru dengan rumus 5C tidak jauh dari filosofi yang dapat dinyatakan sesuai budaya Sunda.

Filosofisnya adalah TAHU (NYAHO) untuk tampil di depan kelas, keadaan anak, dan tahu terhadap diri sendiri. Selanjutnya MENGERTI (NGARTI), yang ketiga adalah SEHARUSNYA (KUDUNA) adalah pada posisi anak-anak di dalam kelas kita tahu apa yang seharusnya dilakukan serta kita tahu seharusnya yang dimau anak. BIASAKAN (BIASAKEUN), untuk proses pembiasaan, dan yang terakhir adalah TAMPILLAH (NGAJADI), sosok paripuna yang kita inginkan berkaitan dengan karakter anak-anak (siswa) kita, agar siswa mau menampilkan potensi yang dimilikinya, nyatanya.

Kompetensi guru yang professional tentunya dapat menghasilkan siswa berkarakter, siswa berakhlak, siswa cerdas, dan siswa juara. Tujuan dari acara ini adalah memberikan apresiasi serta penguatan predikat guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa juga sebagai pembangun peradaban bangsa.

Yakinkan bahwa profesi kita ini (guru) sebagai profesi yang mulia, ada rasa kesadaran yang begitu tinggi bukan sebuah keterpaksaan. Dalam rangka untuk menghadapi masa depan, maka diperlukan soft skill. Yang kedua adalah lakukan dengan penuh semangat, dan yang ketiga lakukan apresiasi, baik penghargaan kepada orang lain maupun diri sendiri, yang terakhir respect. Ucap Ka. Disdik Jabar.

07Des2015